Logo

Kementerian Pertanian
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Balai Embrio Ternak

Cipelang - Bogor

“It's me for Breeding”

Selamat Datang di Website Resmi Balai Embrio Ternak Cipelang
Kami siap melayani Anda sepenuh hati

Balai Embrio Ternak Cipelang Bogor merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis yang berada dibawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.


Berita Umum


Ketahanan pangan bukan hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan dalam swasembada pangan agar tidak ada lagi ketergantungan pangan dari negara manapun. Kementerian Pertanian, dalam hal ini Ditjen PKH terus melakukan upaya pembangunan peternakan dalam mewujudkan pencapaian ketahanan pangan, terutama penyediaan pangan/protein hewani asal ternak. Saat ini Negara kita masih kekurangan daging sapi untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar 30-40%, sehingga masih mengimport daging sapi tersebut dari Negara lain. Ini yang menjadi tantangan sekaligus PR (pekerjaan rumah) bagi Ditjen PKH dalam menutup kekurangan kebutuhan daging tersebut, sekaligus sebagai peluang dalam pembangunan peternakan nasional. Selengkapnya

oleh R. Radito Gariadjie, 27 July 2017

Dalam kurun waktu 2009-2014, penyediaan daging sapi lokal rata-rata baru memenuhi 65,24% kebutuhan total daging sapi/kerbau nasional. Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah perlu menyusun program peningkatan produksi daging sapi/kerbau dalam negeri menggunakan pendekatan yang lebih banyak mengikutsertakan peran aktif masyarakat. Mulai tahun 2017, pemerintah menetapkan Upsus Siwab (upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting). Sebagai dasar pelaksanaan kegiatan ini, telah terbit Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Keluaran yang diharapkan adalah terlayaninya perkawinan sapi/kerbau sebanyak 4 juta akseptor dan terjadinya kebuntingan sapi/kerbau 3 juta ekor di tahun 2017. Selengkapnya

oleh Cecep Sastrawiludin, 13 July 2017

Penerapan teknologi IB dan TE sudah dikenal luas oleh masyarakat peternak di Indonesia. Pemanfaatan teknologi IB terbukti mampu meningkatkan populasi ternak dengan cepat. Dalam upaya meningkatkan mutu genetik ternak, perlu diimbangi dengan pemanfaatan teknologi TE dengan menggunakan embrio yang berasal dari sapi donor dan pejantan unggul sehingga diharapkan akan lebih banyak keturunan unggul yang dihasilkan kemudian. Jika dibandingkan dengan kawin alam dan IB, teknologi TE terbukti mampu memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan keturunan dengan mutu genetik unggul yang setara dengan tetuanya. Selengkapnya

oleh Cecep Sastrawiludin, 6 July 2017

Satyalancana Karya Satya adalah sebuah tanda penghargaan yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang telah berbakti selama 10 atau 20 atau 30 tahun lebih secara terus menerus dengan menunjukkan kecakapan, kedisiplinan, kesetian dan pengabdian sehingga dapat dijadikan teladan bagi setiap pegawai lainnya.Satyalancana Karya Satya dibagi dalam tiga kelas, yaitu Satyalancana Karya Satya 10 Tahun, Satyalancana Karya Satya 20 Tahun, dan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun. Penyematan Anugerah Satya Lencana Karya Satya lingkup Kementerian Pertanian dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Krida Pertanian pada tanggal 21 Juni 2017 bertempat di lapangan Upacara Kementerian Pertanian. Selengkapnya

oleh Doni Indra Gumelar, 22 June 2017

Saya bangga dan bahagia hari ini melihat keberadaan Belgian Blue, ini adalah masa depan peternakan khususnya sapi kita. demikian disampaikan oleh menteri pertanian Andi Amran Sulaiman di BET Cipelang (16/06/2017).

GATOTKACA adalah sapi hasil Transfer embrio jenis sapi Belgian Blue yang pertama di Asia Tenggara.

Selanjutanya mentan menyampaikan, sejalan dengan yang disampaikan presiden RI Setiap UPT pertanian harus menciptakan hal baru, yang bisa membuat lompatan terobosan seperti GATOTKACA.

Kementerian pertanian menargetkan 1.000 ekor pedet Belgian Blue yang akan lahir pada Tahun 2018. Bersinergi dengan beberapa Unit pelayanan Teknis dan Sekolah Tinggi Pertanian dan Peternakan Lingkup Kementerian Pertanian, Mentan meminta segera dilakukan revisi anggaran sebesar 20 Milyar untuk menyukseskan program tersebut.

Selengkapnya

oleh menik setyarini, 16 June 2017